di belakang bising kata-kata
ada ruang
lapang yang lengang.
kekosongan yang tidak
mampu dikatakan
kata. ke sana
kaudatang
berteriak (berteriak
hingga kau adalah suaramu)
meluapkan airmata
melupakan airmata
menerima
menertawai
merawat
melayat
diri
sendiri
meyakini yang lain (puisi
tempat belajar percaya
karena puisi tidak pernah
meminta percaya)
meragukan (di luar puisi
semua perkara memaksamu
meyakini sesuatu. Meragukan
adalah melawan
adalah menghidupkan
hidup)
bertemu masa kecilmu,
berteman sekali lagi
(masa kecil satu-satunya
cita-citamu kini. dengan kata
lain: ketidakmungkinan)
membiarkan kekosongan itu
memasukimu, membiarkan
kekosongan mengosongkan
penuhmu
cuma sedikit, di tengah kenyataan
melimpah & berengsek ini, bisa
kaugunakan bertahan
namun, kaupaham,
adakalanya cuma & cukup
adalah dua kata yang sama
& apabila di sana kautemukan
cinta, di antara seluruh penderitaan
yang menimpa hidupmu, berbahagialah
akhirnya ada satu penderitaan
yang bisa kaupilih sendiri.
M. Aan Mansyur lahir pada 14 Januari 1982 di Bone, Sulawesi Selatan. Kehidupannya di kampung halaman memberikan dasar kuat bagi visinya dalam berkarya. Anak seorang petani ini menjalani masa kecil yang sederhana, dan pengalaman hidup di pedesaan meninggalkan jejak mendalam pada karakter penulisan Aan yang kerap dipenuhi narasi alam, kehidupan pedesaan, serta suasana tenang yang memendam gejolak batin. Pendidikan formal yang ditempuh Aan di Sulawesi membentuk pandangannya terhadap dunia. Ia menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah dan kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Hasanuddin, Makassar. Walaupun ia tidak mengambil jurusan sastra secara formal, kecintaannya terhadap sastra tumbuh secara organik. Minat terhadap bacaan serta ketertarikan pada puisi mulai berkembang sejak masa remajanya, dan ia mulai mencoba menulis sejak saat itu.


